Inspirasi dari karyawan-karyawan Elang Group

Tahun Depan, Mal Banjiri Kawasan Perumahan

JAKARTA, KOMPAS.com — Moratorium yang berlaku di wilayah administrasi DKI Jakarta tak membuat pengembang menangguhkan rencana pembangunan pusat belanja baru. Mereka justru mengincar kawasan pinggiran dan terutama di dalam kawasan perumahan.

Menurut data Colliers International Indonesia, mulai 2014 hingga 2016 mendatang, terdapat sebelas pusat belanja yang dibangun dan beroperasi di dalam kawasan perumahan. Kesebelas pusat belanja tersebut adalah St Moritz Shopping Mall seluas 129.000 meter persegi yang dikembangkan PT Lippo Karawaci Tbk. Lokasi pusat belanja ini berada di dalam perumahan Puri Indah, Jakarta Barat, dan termasuk dalam kawasan Sentra Primer Baru Barat (SPBB).

Kemudian, Mal Puri Indah Ekstensi (3.000 meter persegi) milik Pondok Indah Group (PT Antilope Madju Puri Indah) yang juga di dalam perumahan Puri Indah, Jakarta Barat. Disusul oleh Mal Kelapa Gading III Ekstensi (6.000 meter persegi) yang digarap PT Summarecon Agung Tbk yang berada di perumahan Kelapa Gading, Jakarta Utara, dan Mal Puri Indah 2 (75.000 meter persegi) di dalam perumahan Puri Indah (PT Antilope Madju Puri Indah).

Selanjutnya, The Breeze seluas 24.300 meter persegi yang dikembangkan Sinarmas Land di BSD City, Bintaro Xchange (45.000 meter persegi) milik PT Jaya Real Property Tbk di dalam area perumahan Bintaro Jaya, Cinere Bellevue (28.000 meter persegi) di perumahan Cinere dan dibangun oleh PT Megapolitan Development, Lippo Cikarang Citywalk Fase II seluas 8.000 meter persegi milik PT Lippo Cikarang Tbk, dan AEON Mall seluas 75.000 meter persegi hasil kolaborasi AEON Group dan Sinarmas Land.

Menyusul kemudian adalah Deltamas Mall seluas 40.000 meter persegi di Kota Deltamas yang dibangun Sinarmas Land, serta Mal Kota Harapan Indah, Bekasi, seluas 75.000 meter persegi (PT Hasana Damai Putra).

CEO Hasana Damai Putra, Benny Gunawan, mengungkapkan, pihaknya membangun mal di dalam kawasan perumahan sebagai fasilitas penunjang. Kebutuhan terhadap tempat serupa pun tinggi. Terlebih lagi, di area perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi belum terdapat pusat belanja seperti ini.

“Kota Harapan Indah Bekasi sendiri dirancang sebagai kota mandiri yang dilengkapi berbagai fasilitas. Kami tidak sekadar membangun mal, tetapi juga properti terintegrasi dengan hotel dan kantor 16 lantai,” papar Benny, Senin (23/10/2013).

Benny menargetkan, mal dan gedung perkantoran akan beroperasi pada tahun 2014 mendatang. Saat ini konstruksinya sudah mencapai 70 persen.

Mal komunitas

Jika selama lima tahun terakhir konsep pengembangan pusat belanja mengadopsi genre gaya hidup (lifestyle mall), maka untuk 2014 dan tahun-tahun mendatang, mal komunitas-lah yang akan merajai pasar.

Menurut Direktur Pakuwon Group yang juga Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), A Stefanus Ridwan, mal komunitas berbeda dengan konsep mal gaya hidup atau mal konvensional. Mal ini tidak mengharuskan diisi oleh penyewa utama (anchor tenant) berupadepartment store, supermarket, atau home appliance.

“Mal komunitas menekankan kepada satu tema tertentu. Misalnya, hiburan (entertainment). Mal hiburan akan berisi segala hal terkait hiburan. Di dalam mal jenis ini penyewanya bisa sinepleks (bioskop), karaoke, klub, dan kafe-kafe terkait dunia entertainment, atau bisa juga bertema hobi seperti dunia otomotif dan fotografi,” ujar Stefanus kepada Kompas.com, Senin (23/12/2013).

Mal komunitas, prediksi Stefanus, akan berkembang pesat pada tahun-tahun mendatang. Pasalnya, pusat belanja jenis ini tidak membutuhkan lahan luas, bisa dibangun di mana saja, termasuk di dalam kawasan perumahan, pembauran penyewa yang tidak rumit, dan pastinya memiliki pasar tetap.

“Namun, perlu ditekankan, di dalam mal komunitas harus ada perpaduan antara penyewa kuliner dan hal-hal terkait komunitas. Ini merupakan terobosan baru, di tengah situasi dollar yang terus perkasa, kami mengembangkan mal jenis ini sebagai alternatif supaya pusat pendapatan berulang (recurring income) terus bergulir,” tandasnya.

Pakuwon sendiri sudah menyiapkan lahan untuk dimanfaatkan sebagai pengembangan calon portofolio pusat belanja baru bergenre komunitas ini.

“Lokasi lahan tersebut di perbatasan Jakarta, dan dekat dengan kawasan perumahan. Kami akan memulai konstruksi tahun depan. Sementara, (lokasi) masih dalam proses desain yang mengadopsi pusat belanja yang sedang in di mancanegara,” ungkap Stefanus.

sumber : kompas.com

Waspada… Bahaya Kebakaran Mengintai Anda!

JAKARTA, KOMPAS.com – Pertumbuhan permukiman yang tidak terkendali di kota besar tidak hanya memicu masalah penataan kota, namun juga keamanan warganya. Lokasi-lokasi permukiman menjadi sangat padat dan hampir tidak ada jeda antara satu hunian dengan hunian lain. Hal ini tentu saja berpotensi memicu bahaya besar. Salah satu bahayanya adalah kebakaran.

Kebakaran bisa terjadi karena banyak hal, misalnya api dari kompor yang menyambar kain, api dari puntung rokok, bahkan arus pendek listrik. Di permukiman padat penduduk, satu rumah terbakar bisa menyebabkan ratusan rumah lain ikut terbakar. Meski sudah berhati-hati, bahaya kebakaran masih bisa mengintai Anda!

Kebakaran yang disebabkan oleh instalasi listrik umumnya terjadi karena instalasi tersebut tidak memadai. Misalnya, tidak menggunakan perlengkapan berstandar nasional, tidak mengikutsertakan pengaman, atau disambung tanpa keahlian khusus. Berbagai hal ini tidak mampu menanggulangi percikan api yang terjadi karena beban lebih penggunaan listrik, hubungan singkat listrik (arus pendek, atau korsleting), serta arus bocor pada bangunan atau peralatan.

Ironisnya, ketika musibah semacam ini terjadi, tidak jarang masyarakat pun menyalahkan PLN sebagai penyebab musibah tersebut. Menurut Vice President for Partner Retail Business Schneider Electric, Cin Cin Go, pemilik rumah pun punya porsi kesalahan tersendiri dalam terjadinya musibah tersebut. Terutama, jika menggunakan perangkat kelistrikan yang lebih murah, namun tidak berstandar nasional.

Cin Cin mengungkapkan bahwa ada berbagai kemungkinan skenario terjadinya kebakaran yang berhubungan dengan instalasi listrik. Salah satu kemungkinannya, adalah barang-barang yang digunakan dalam instalasi tersebut tidak ber-SNI atau berstandar nasional.

“Salah satu yang membuat kebakaran, misalnya membeli dan menggunakan kabel listrik tidak ber-SNI. Kabel dimasukkan ke dalam pipa, kemudian dimasukkan ke dalam tembok, terkena panas, dingin, dan akhirnya bisa hancur. Bisa terbakar,” ujarnya.

Idealnya, setiap rumah memiliki MCB dan ELCB berstandar nasional. MCB atau Miniature Circuit Breaker merupakan perangkat yang berfungsi mencegah arus pendek. Ketika terjadi pemakaian berlebihan, MCB akan memastikan hubungan listrik terputus.

Sementara, ELCB atau Earth Leakage Circuit Breaker berfungsi mengamankan manusia dari arus bocor. Listrik bisa dikatakan bocor jika ada yang menghantarkannya keluar dari jaringan. Arus bocor mampu membuat orang tersengat listrik hingga tewas. Namun Anda juga harus hati-hati, pasalnya kini sudah beredar MCB dan ELBC tiruan dengan spesifikasi di bawah standar nasional.

Bentuk MCB dan ELCB seharusnya sudah familiar. Keduanya berbentuk tidak jauh berbeda dari meteran yang disediakan PLN di setiap rumah penduduk. Hanya saja, baik MCB maupun ELCB biasanya diletakkan berderet di dalam rumah. Sebagian orang meletakkannya di lokasi-lokasi tersembunyi, seperti di belakang pintu atau di garasi.

Country President PT Schneider Electric Indonesia, Riyanto Mashan, mengatakan bahwa MCB dan ELCB berstandar nasional umumnya lebih berat dari tiruannya. Sayangnya, kini ada pula tiruan yang menggunakan pemberat agar makin sulit dibedakan dengan aslinya. Perbedaan harga dan tempat memperolehnya saja yang bisa Anda pertimbangkan.

Sumber : kompas.com

Apa Perbedaan Real Estate dan Real Property?

RumahCom – Banyak orang seringkali mengatakan ‘real estate’memiliki makna yang sama dengan ‘real property’. Padahal, sebenarnya kedua istilah properti tersebut merujuk pada arti yang berbeda.

Real estate—yang telah diindonesiakan menjadi real estat—didefinisikan sebagai “land and all improvement made both on and to land” atau tanah dengan segala perbaikan dan perkembangannya. Perbaikan yang dimaksudkan adalah semua buatan manusia yang dilekatkan pada tanah.

Dengan demikian, real estat bisa diartikan sebagai tanah dan semua benda yang menyatu di atasnya (berupa bangunan) serta yang menyatu terhadapnya (halaman, pagar, jalan, saluran, dan lain-lain yang berada di luar bangunan).

Di sisi lain, real property didefinisikan sebagai “the interest, benefits, and rights inherent in the ownership of real estate”. Dengan kata lain, real property adalah kepentingan dan hak-hak yang menyangkut kepemilikan tanah, bangunan, dan perbaikan yang menyatu terhadapnya.

Jadi, real property adalah istilah yang menyangkut hubungan hukum antara obyek (real estat) dengan subyek (pemilik). Sedangkan istilah real estate hanya menyangkut obyek itu sendiri (tanah dan bangunan).

Hal serupa juga terlihat dari perbedaan istilah apartemen dan kondominium. Istilah “apartemen” menunjukkan fisik bangunan yang terbagi, sementara “kondominium” menunjukkan kepemilikan yang terbagi-bagi.

Selain kedua istilah tadi, ada pula istilah-istilah properti lain yang sering muncul, seperti real, realty, realtist dan realtor. Real dan realty dapat diartikan sebagai barang yang nyata, atau dalam konteks properti diartikan sebagai tanah. Sementara itu, realtor dan realtist adalah orang-orang yang melakukan kegiatan atau usaha yang berhubungan dengan tanah dan bangunan dalam arti luas.

sumber : rumah.com

Kisah Sukses Pengusaha Kecil Jadi Motivasi

[su_dropcap style=”flat”]J[/su_dropcap]AKARTA, KOMPAS – Keseriusan seseorang dalam merintis bisnis dan berinovasi akan meningkatkan produktivitas dan kompetensi. Dengan demikian, usaha kecil bisa berkembang besar. Kisah sukses para pengusaha kecil dari seluruh Indonesia tersebut harus menjadi contoh untuk memotivasi pengembangan kewirausahaan di daerah.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar mengatakan hal ini saat menerima audiensi 20 penerima penghargaan kualitas dan produktivitas Paramakarya di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Jakarta, Senin (25/11/2013). Turut hadir Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi dan Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kemenakertrans Abdul Wahab Bangkona.

”Kami berharap Anda semua menjadi model bagi pengembangan kewirausahaan yang produktif. Berbagai kisah sukses industri berskala kecil dan menengah ini menjadi momentum untuk mendorong lebih banyak lagi industri baru yang berkembang,” kata Muhaimin.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menyerahkan langsung penghargaan tersebut kepada 20 pengusaha kecil dan menengah. Mereka bergerak dalam bidang industri permesinan, perkayuan, makanan dan minuman, tekstil seperti songket, dan kerajinan rotan.

Tim juri yang diketuai Sofjan Wanandi didampingi pakar manajemen Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, menyeleksi mereka dari sedikitnya 198 perusahaan kecil dan menengah yang memenuhi kriteria. Mereka tersebar mulai dari Sumatera Barat, Lampung, Jawa Timur, sampai Sulawesi Selatan.

Sofjan mengatakan, Apindo mendukung program ini karena bertujuan melihat produktivitas usaha kecil dan menengah untuk menjadi panutan bagi wirausaha yang lain. Sofjan memintamedia massa menyebarluaskan kisah sukses para pengusaha kecil tersebut agar lebih banyak wirausaha berhasil mengembangkan bisnis mereka.

”Mereka terpilih melalui pertimbangan yang sangat ketat yang diakhiri dengan verifikasi lapangan untuk membuktikan tingkat kesuksesan mereka. Kami berharap pemerintah terus membina mereka supaya UKM juga naik kelas menjadi pengusaha besar yang menggerakkansektor riil dan menciptakan lapangan kerja lebih banyak lagi,” kata Sofjan.

Salah seorang penerima penghargaan, Fidrianto, mengatakan, dia cukup bangga karena tim juri menilai industri permesinan tapioka yang dirintisnya di Lampung sejak tiga tahun lalu sebagai usaha yang sukses. Pengoptimalan kompetensi dan produktivitas 150 pekerja permanen yang merupakan aset melalui pelatihan untuk meningkatkan keahlian menjadi prioritas Fidrianto.

”Kami telah mengembangkan mesin pabrik tapioka bebas limbah. Sekarang kami sedang membangun industri mesin pabrik sagu yang juga prospektif,” kata Fidrianto.

Pengusaha mebel rotan dari Cirebon, Jawa Barat, Nur Handiah J Taguba, mengatakan, dia kini telah memiliki 500 pekerja permanen. (HAM)

sumber : kompas.com

Membuka Diri Terhadap Perubahan

[ideabox]Inspirator: Puji Astuti- R&D

Editor: Rina– Receptionist[/ideabox]

Perubahan pasti akan terjadi selama kita menjalani kehidupan ini. Cara pandang kita terhadap perubahan akan mempengaruhi sikap kita. kemampuan kita untuk berubah menuju hal yang positif akan semakin menguatkan kita dalam mewujudkan kesuksesan. Dalam perubahan, kita akan semakin menuju ke kesempurnaan.

Untuk itu diperlukan cara pandang yang positif dan keberanian untuk mengubah kebiasaan- kebiasaan lama yang tidak produktif. pandangan positif yang kita miliki akan membuat kita tidak takut dalam menghadapi perubahan. Karena dengan memandang positif suatu perubahan, maka yang akan terjadi adalah sikap menerima, karena yakin perubahan akan membawa perkembangan bagi kehidupan kita.

Perubahan yang membawa perkembangan kita tersebut lama- lama akan menjadikan diri kita mencapai kesuksesan. Karena kesuksesan itu bukanlah sesuatu yang “INSTAN” tetapi benar- benar harus melalui proses demi proses yang membutuhkan “KERJA KERAS” untuk mewujudkannya, dan kesuksesan itu bukanlah di tentukan oleh orang lain, melainkan benar- benar ditentukan oleh “DIRI KITA SENDIRI”. Jadi jadikanlah diri kita sebagai PEMAIN dalam meraih kesuksesan dalam kehidupan ini, dan bukan hanya sebagai PENONTON.

 

Keikhlasan dan Kesabaran

[ideabox]Inspirator: Shabrina– Kontruksi

Editor: Rina– Receptionist[/ideabox]

Saya ingin mengawali renungan kita kali ini dengan mengingatkan pada salah satu kisah kehidupan yang mungkin banyak tercecer di depan mata kita. Cerita ini tentang seorang kakek yang sederhana, hidup sebagai orang kampung yang bersahaja. Suatu sore, ia mendapati pohon  pepaya di depan rumahnya yang telah berbuah. Walaupun hanya dua buah namun telah menguning dan siap dipanen. Ia berencana memetik buah itu di keesokan harinya. Namun, tatkala pagi tiba, ia mendapati satu buah pepayanya hilang dicuri orang. Kakek itu begitu bersedih, hingga istrinya merasa heran. “masak hanya karena sebuah pepaya saja engkau demikian murung” ujar sang istri. “bukan itu yang aku sedihkan” jawab sang kakek, “aku kepikiran, betapa sulitnya orang itu mengambil pepaya kita. Ia harus mengambil di tengah malam agar tidak ketahuan orang. Belum lagi mesti memanjatnya dengan susah payah untuk bisa memetiknya”. “Dari itu bune” lanjut sang kakek, “saya akan pinjam tangga dan saya taruh dibawah puhin pepaya kita, mudah-mudahan ia datang kembali malam ini dan tidak akan kesulitan lagi mengambil yang satunya”. Namun saat pagi kembali hadir, ia mendapati pepaya yang tinggal sebuah itu tetap ada beserta tangganya tanpa bergeser sedikitpun. Ia mencoba bersabar dan berharap pencuri itu akan muncul lagi di malam ini. Namun di pagi berikutnya, tetap saja buah pepaya itu masih di tempatnya. Di sore harinya, sang kakek kedatangan seorang tamu yang menenteng dua buah pepaya besar ditangannya. Ia belum pernah mengenal si tamu tersebut. Singkat cerita, setelah berbincang lama, saat hendak pamitan tamu itu dengan amat menyesal mengaku bahwa ialah yang telah mencuri pepayanya. “Sebenarnya” kata sang tamu, dimalam berikutnya saya ingin mencuri buah pepaya yang tersisa. Namun saat saya menemukan ada tangga disana, saya tersadar dan sejak itu saya bertekat untuk tidak mencuri lagi. Untuk itu saya kembalikan buah pepaya anda dan untuk menebus kesalahan saya, saya hadiahkan pepaya yang baru saya beli di pasar untuk anda.

Hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah tentang keikhlasan, kesabaran, kebajikan dan cara pandang positif terhadap kehidupan. Mampukah kita tetap bersikap positif saat kita kehilangan sesuatu yang kita cintai dengan ikhlas mencari sisi baiknya serta melupakan sakitnya suatu “musibah?”.

Etos Kerja yg Unggul dalam Diri Kita

[ideabox]Inspirator: Puji Astuti- R&D

Editor: Rina– Receptionist[/ideabox]

Etos adalah sikap, kebiasaan, keyakinan yang berbeda dari setiap individu. Bahkan dapat dikatakan secara garis besar bahwa etos pada dasarnya adalah tentang etika. Nilai-nilai yang dikaitkan dengan etos kerja adalah rajin, bekerja keras, berdisiplin tinggi, menahan diri, ulet, tekun, dan nilai-nilai etika lainnya.

Apakah etos kerja itu baik atau buruk? Itu tak terjadi dalam waktu singkat. Contoh kebiasaan buruk mulanya mungkin hanya muncul kesalahan kecil saja, tetapi karna dibiasakan terus menerus akan menjadi kebiasaan buruk dan bisa terbentuk dalam diri kita, tanpa disadari kita tidak memerlukan disiplin pribadi untuk mendapatkan kebiasaan buruk. Kekuatan dalam diri kita slalu mendorong untuk memiliki kebiasaan ini, kita lebih sering bersahabat dalam kebiasaan buruk tetapi tidak bersahabat dengan etos kerja unggul.

Kita akan selalu membuka lebar-lebar pintu hati kita kepada kebiasaan buruk seperti sering terlambat bangun, selalu datang terlambat kekantor, atau selalu membang-uang waktu & menunda- nunda pekerjaan cukup dengan membiarkan diri kita larut dengan kebiasaan buruk kita dengan sendirinya akan mendapatkan , tetapi untuk mendapatkan kebiasaan yang baik dibutuhkan energi sangat besar, namun sering kita tidak berdaya, bahkan sekalipun kita sadar akan kebiasaan buruk terhadap diri kita, kita selalu tidak bisa untuk mengalahkan kekuatan yang membentuk kebiasaan buruk itu.

Bagaimana kita menanamkan etos kerja unggul dalam pekerjaan kita? Yaitu dengan bekerja secara sistematis. Bagaimana bekerja secara sistematis itu? Bekerja sistematis yaitu bekerja dengan memperhatikan permasalahan bahwa adanya keterkaitan antara bidang yang satu dan bidang yang lain. Pekerjaan pada bidang tertentu akan memberi dampak pada bidang yang lain tidak ada pekerjaan yang dikerjakan hanya untuk satu departement, tiap departement memiliki keterkaitan dengan departement lain. Ada yang mengikat fungsi yang satu dengan fungsi yang lain. Hal ini biasanya disebut dengan bisnis proses .

Jadi, jelas bahwa bisnis proses mengikat beberapa Departement dalam perusahaan untuk mencapai hasil tertentu dan memahami tentang pentingnya prinsip keterkaitan ini akan menentukan kualitas hasil pekerjaan dan efesiensi biaya.

Kisah tentang Ayah

[ideabox]Inspirator: Ferdiansyah – Asset Management

Editor: Rina– Receptionist[/ideabox]

Sosok dia yang terkadang kita lupakan, penuh kasih sayang dan pengorbanan untuk kita. Dia memiliki hati yang lembut tapi selalu terlihat sangat kuat didepan kita. Dia adalah “AYAH”. Terkadang dalam sebuah keluarga, kita sebagai anak selalu lebih dekat dengan ibu, bahkan kakak atau adik dibandingkan dengan ayah. Tahukah sebenarnya bagaimana ayah kita dibalik sikap tegasnya? Saat kita main sampai larut, ayahlah yang meminta ibu untuk menelpon kita. Saat kita menangis, ayahlah yang meminta ibu untuk bertanya “kenapa” kepada kita. Saat kita terluka, ayahlah yang mampu menggendong kita. Saat kita tumbuh dewasa, ayahlah yang selalu menyelipkan nama kita dalam doanya. Saat kita menikah kelak, ayahlah orang yang paling tak rela kehilangan kita.

Tapi mengapa ayah selalu terlihat cuek? Karena ayah tidak ingin terlihat lemah oleh anaknya, ayah menangis saat menyendiri dan terlihat kuat saat bersama anaknya. Dan ayah hanya mengeluh kepada Tuhan. Andai Tuhan berbicara dengan ayah kita, “Anakmu akan Ku panggil”, mungkin ayah akan menjawab “Tukarlah nyawaku dengan nyawanya, aku ikhlas”. Terkadang kita menghargai ayah hanya karena rasa takut, kadang kita lebih mudah bercerita kepada ibu dibandingkan kepada ayah. Sesungguhnya dibalik keras kepala ayah, tersimpan hati yang sangat lembut.

Kesimpulan : “Selagi ada kesempatan, banggakanlah dia, teruslah buat ia tersenyum, peluklah ayahmu karena ayah tidak mampu mengalahkan egonya. Hargai, hormati, dan cintailah ayahmu melebihi cinta pada diri kita sendiri”.

Jangan Berkata Tidak Sebelum Mencoba

[ideabox]Inspirator: Sabrina- Training

Editor: Rina– Receptionist[/ideabox]

Alkisah seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Wahai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?” “Hah,” kata jam terperanjat, “sebanyak itu?” Mana sanggup saya?” Bagaimana kalaun 86,400 kali dalam sehari?” tanya si tukang jam. “Delapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum ramping-ramping seperti ini?” Jawab jam penuh keraguan. “Ya sudah, bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?” “Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali!”. Tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?” “Satu kali dalam satu detik?” Ah… kalau ini mah ringan, kalau begitu aku sanggup!” kata jam dengan penuh antusias. Si tukang jam pun tersenyum san segera merampungkan jam tersebut. Maka, setelah selesai dibuatnya, jam itu pun berdetak satu kali dalam setiap detiknya. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa, karena ternyata dalam satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti, dan itu berarti ia telah berdetak 31,104,000 kali.

Kesimpulan: “Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat, namun sebenarnya jika kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu, bahkan yang kita anggap mustahil sekalipun”

Sikap dalam Hidup

[ideabox]Inspirator: Dimmy– Keuangan

Editor: Rina– Receptionist[/ideabox]

Semakin lama saya hidup, semakin saya sadar akan pengaruh sikap dalam kehidupan. Sikap lebih penting daripada ilmu, daripada kesempatan, daripada kegagalan, daripada keberhasilan, daripada apapun yang mungkin dikatakan atau dilakukan seseorang. Dan sikap lebih penting dari penampilan, karunia dan keahlian. Hal yang paling menakjubkan adalah kita memiliki pilihan untuk menghasilkan sikap yang kita miliki pada hari itu.

Kita tidak dapat mengubah masalalu, kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang lain, kita tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi. Satu hal yang dapat kita kontrol, dan itu adalah sikap kita. Saya semakin yakin bahwa hidup adalah 10% dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita, dan 90% adalah bagaimana sikap kita menghadapinya.

kesimpulan: “Perbaiki sikap kita agar dapat kehidupan yang lebih baik dan bahagia di masa nanti, dan ubah dirimu dahulu sebelum kamu merubah duniamu””